Senin, 22 Januari 2018

Labor For Dummies (catatan suami bidan)

Pekerjaan sy sebelumnya sebagai Analis Performa Telekomunikasi. Kita selaku pengguna telekomunikasi tentunya pernah beberapa kali mengalami drop-call, nelpon susah nyambung, Internet lemot dan lain sebagainya. Peran sy adalah mencari tahu penyebab dari berbagai kendala tersebut, setiap kendala yg berbeda biasanya berbeda pula penyebabnya. Dalam proses menganalisa dan mencari tahu penyebab kendala tersebut tentunya sy mengacu pada parameter parameter yg muncul sebelum, selama dan sesudah kendala terjadi. Nilai nilai dari berbagai macam parameter itulah yg saya olah dalam proses analisa.

Lain ladang lain ilalang kata orang, tapi peribahasa ini sepertinya tidak sepenuhnya betul. Dalam proses persalinan seringnya kita berpangku tangan pada tenaga kesehatan. Ketika istri merasakan kontraksi kita langsung membawanya utk diperiksa. Bagaimana bu dokter/bu bidan apakah sudah waktunya lahir? Kira kira kapan? Ow masih lama pak silahkan pulang dulu aja, nanti klo ada apa2 kesini lagi aja. Dan saat itu pikiran kita berkecamuk bagaimana nanti klo ada apa apa? Bisa ga nunggu nya nginap di rumah sakit aja, biar klo ada apa apa bisa langsung ditangani. Namun biasanya kita pasrah pulang aja sambil membawa perasaan was was. Besoknya kita suami jadi ga genah apakah harus berangkat kerja, nanti klo di tempat kerja istri sy kenapa napa gmn? Itulah biasanya pertanyaan yg sering berkecamuk, setidaknya yg pernah sy alami di persalinan anak pertama.

Klo kita perhatikan, kok kayaknya dunia persalinan itu dunia gaib. Kita bingung harus berbuat apa, ujung ujungnya kita hanya bergantung pada tenaga kesehatan. Namun setelah sy alami tiga persalinan dan memperhatikan beberapa persalinan orang lain, sy bisa ambil kesimpulan bahwa sebenarnya proses persalinan juga ada parameter parameter yg bisa kita jadikan acuan utk mengambil keputusan atau tindakan. Persalinan science juga kan sama halnya dengan Telekomunikasi, akar nya IPA juga alias ilmu pasti.

Saat 36/37 minggu pada saat istri diperiksa tanya aja ke dokter/bidan apakah Kepala bayi sudah masuk panggul belum? ini parameter pertama. Jika sudah masuk panggul, posisi bayi biasanya sudah tetap. Jika belum berarti kita musti waspada karena posisi bayi bisa kapan saja berubah. Yg dikhawatirkan adalah posisi sungsang atau melintang pada saat proses persalinan. Pada W36-37 kepala masih belum panggul menandakan panggul istri belum begitu merenggang. Kenapa belum merenggang? bisa jadi karena selama 8 bulan kehamilan istri kita males gerak. Kemana mana naik motor, ga mau jalan jauh dikit, ga pernah berenang, yoga, senam hamil dan olahraga lainnya. Jika hal ini terjadi masih ada waktu 1-2 minggu utk usaha peregangan panggul dan memutar posisi bayi. Pada hakikatnya memutar bumi saja Allah Maha Kuasa apalagi hanya sekedar memutar kepala bayi, namun Islam senantiasa mensyariatkan ikhtiar setelah berdoa.

Kemudian pada saat datang kontraksi biasanya istri kita diperiksa dalam ada beberapa parameter yg bisa kita tanyakan. Kepala bayi bagaimana apakah masih tinggi atau sudah dekat atau bahkan sudah hampir kepegang? Klo masih tinggi berarti kita musti ekstra ikhtiar, jalan kaki, naik turun tangga, ngepel jongkok dan lain sebagainya. Parameter ini biasanya dipadukan dengan parameter mulut rahim. Apakah mulut rahimnya tebal atau tipis, kaku atau lunak. Klo kepala bayi masih tinggi dan mulut rahim tebel plus kaku biasanya kita disuruh pulang dulu. Nah kita jangan ragu untuk pulang, di rumah ikhtiar nya dilanjutkan. Tadi kepala tinggi ikhtiar nya olahraga, dan mulut rahim yg tebal kaku ikhtiar nya hubungan suami istri, karena sperma kita mengandung hormon yg bisa melunakkan mulut rahim.

Kita biasanya cuman nanya udah pembukaan berapa dok? Parameter ini sebenarnya aga bias dan aga susah dijadikan acuan, karena pembukaan yg pasti itu hanyalah pembukaan satu dan pembukaan lengkap atau sepuluh. Antara pembukaan 3 sampai 8 tiap tenaga kesehatan biasanya berbeda. Ya namanya ngukur pakai dua ujung jari, coba bisa ngukurnya pake penggaris hehe. Kadang di bidan ini pembukaan 3 tapi di bidan yg lain pembukaan 4. Konon katanya matanya bidan ada di tangan, iya bidan yg ga bisa mengukur pembukaan musti belajar lagi, ini katanya lho ya.

Parameter yg lebih pasti adalah frekuensi dan durasi kontraksi. Prinsipnya makin sering dan makin lama kontraksi itu makin mendekati masanya lahir. Dan sedikit bocoran dari bidan yg sy kenal bahwa di bawah pembukaan 4 tidak bisa diprediksi kapan lahirnya, bisa lusa bahkan bisa minggu depannya lagi. Tapi jika sudah di atas pembukaan 4 itu bisa diprediksi, bagaimana keahlian si tenaga kesehatannya.

Nah utk soal prediksi prediksi ini kayaknya sy ga bisa mempelajari lebih lanjut, harus ambil spesialisasi kandungan dengan jam terbang yg tinggi pula. Tapi lumayanlah sy kira beberapa parameter di atas bisa dijadikan acuan utk kita orang awam dalam mengusahakan persalinan alami bagi istri kita. Klo kita paham parameter parameter minimal di atas biasanya kita ga akan mudah panik. Klo kita ga panik dan tenang, kita bisa menjalankan Birth plan dengan baik dan menikmati proses persalinannya.

Wallahualam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar